BAB 5
KOLOID
Koloid merupakan bagian dari sistem dispersi,
sebelum menjelaskan koloid maka lebih dulu akan dijelaskan mengenai sistem
dispersi itu sendiri.
SISTEM DISPERSI
Bila suatu zat dicampurkan dengan zat ain, maka aka terjadi penebaran secara
merata dari suatu zat ke zat lain yang disebut dengan sistem dispersi. Berdasarkan
ukuran partikelnya, sistem dispersi dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu larutan,
koloid, dan suspensi1. Suspensi
Merupakan suatu sisem dispersi dengan partikel yang berukuran relative besar tersebar merata di dalam medium pendispersinya. Pada umumnya sistem dispersi merupakan campuran yang heterogen.
Sebagai contoh adalah endapan hasil reaksi atau pasir yang dicampur dengan air. Dalam sistem dispersi tersebut partikel-partikel terdispersi dapat diamati dengan mikroskop atau bahkan dengan mata telanjang. Contoh suspensi adalah pengendapan Fe(OH)3
2. Larutan
Larutan merupakan sistem disperse yang ukuran partikel-partikelnya sangat kecil sehingga tidak dapat dibedakan (diamati) antara partikel pendispersi dengan partikel terdispersi walaupun menggunakan maikroskop dengan tingkat pembesaran yang tinggi mikroskop ultra)
3. Koloid
Koloid berasal dari kata “kolia” yang dalam bahasa Yunani berarti “lem”. Koloid adalah suatu campuran zat heterogen antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid tersebar merata dalam zat lain. Ukuran koloid berkisar antara 1-100 nm ( 10-7 – 10-5 cm ).
Koloid memiliki bentuk bermacam-macam, tergantung dari fasa zat pendispersi dan zat terdispersinya. Sistem dispersi koloid dapat terjadi dari dispersi zat padat, cair atau gas kedalam zat pendispersi dalam fase padat, cair atau gas. Beberapa jenis koloid:
|
Fase Terdispersi
|
Medium Pendispersi
|
Jenis Koloid
|
Contoh
|
|
Gas
|
Cair
|
Buih
|
Busa sabun, Krim kocok
|
|
Gas
|
Padat
|
Buih padat
|
Batu apung, Karet Busa
|
|
Cair
|
Gas
|
Aerosol cair
|
Kabut, Awan
|
|
Cair
|
Cair
|
emulsi
|
Susu, santan
|
|
Cair
|
Padat
|
Emulsi padat
|
Mentega, Keju
|
|
Padat
|
Gas
|
Aerosol padat
|
Asap, debu
|
|
Padat
|
Cair
|
Sol
|
Sol, tinta
|
|
Padat
|
Padat
|
Sol padat
|
Gelas berwarna, intan hitam
|
Perbedaan Umum Sistem Dispersi Suspensi, Koloid dan Larutan
|
Perbedaan
|
Suspensi
|
Koloid
|
Larutan
|
|
|
Ukuran
Partikel
|
>100 nm
|
1-100 nm
|
< 100 nm
|
|
|
Penampilan fisis
|
Keruh
Pertikel
terdispersi dapat diamati langsung dengan mata telanjang
|
Keruh-jernih
Partikel
terdispersi hanya dapat diamati dengan mikroskop ultra
|
Jernih
Partikel
terdispersi dapat diamati dengan mikroskop ultra.
|
|
|
Kestabilan
(bila didiamkan)
|
Mudah terpisah (mengendap)
|
Sukar terpisah (relatif stabil)
|
Tidak terpisah (sangat stabil)
|
|
|
Cara
pemisahan Filtr
|
Filtrasi (disaring)
|
Tidak dapat disaring
|
Tidak dapat disaring
|
|
Sistem
koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan
suspensi (campuran kasar). Sistem koloid ini mempunyai sifat-sifat khas yang
berbeda dari sifat larutan atau suspensi.
Di dalam larutan koloid secara umum, ada 2 zat sebagai berikut :- Zat terdispersi, yakni zat yang terlarut di dalam larutan koloid
- Zat pendispersi, yakni zat pelarut di dalam larutan koloid
Sifat
Koloid
a. Efek Tyndall
Efek Tyndall adalah penghamburan
cahaya oleh larutan koloid, peristiwa di mana jalannya sinar dalam koloid dapat
terlihat karena partikel koloid dapat menghamburkan sinar ke segala jurusan.
Contoh: sinar matahari yang
dihamburkan partikel koloid di angkasa, hingga langit berwarna biru pada siang
hari dan jingga pada sore hari ; debu dalam ruangan akan terlihat jika ada
sinar masuk melalui celah.
b. Gerak Brown
Gerak Brown adalah gerak partikel
koloid dalam medium pendispersi secara terus menerus, karena adanya tumbukan antara
partikel zat terdispersi dan zat pendispersi. Karena gerak aktif yang terus
menerus ini, partikel koloid tidak memisah jika didiamkan.
c. Adsorbsi Koloid
Adsorbsi Koloid adalah penyerapan
zat atau ion pada permukaan koloid. Sifat adsorbsi digunakan dalam proses:
1. Pemutihan gula tebu.
2. Norit.
3. Penjernihan air.
Contoh: koloid antara obat diare dan
cairan dalam usus yang akan menyerap kuman penyebab diare.
d. Muatan Koloid dan
Elektroforesis
Muatan Koloid ditentukan oleh muatan
ion yang terserap permukaan koloid. Elektroforesis adalah gerakan partikel
koloid karena pengaruh medan listrik.
Contoh: cerobong pabrik yang
dipasangi lempeng logam yang bermuatan listrik dengan tujuan untuk
menggumpalkan debunya.
e. Koagulasi Koloid
Koagulasi koloid adalah penggumpalan
koloid karena elektrolit yang muatannya berlawanan.
Contoh: kotoran pada air yang
digumpalkan oleh tawas sehingga air menjadi jernih.
Faktor-faktor yang menyebabkan
koagulasi:
- Perubahan suhu.
- Pengadukan.
- Penambahan ion dengan muatan besar (contoh: tawas).
- Pencampuran koloid positif dan koloid negatif.
Koloid akan mengalami koagulasi
dengan cara:
1. Mekanik
Cara mekanik dilakukan dengan
pemanasan, pendinginan atau pengadukan cepat.
2. Kimia
Dengan penambahan elektrolit (asam,
basa, atau garam).
Contoh: susu + sirup masam —>
menggumpal
Lumpur + tawas —> menggumpal
Dengan mencampurkan 2 macam koloid
dengan muatan yang berlawanan.
Contoh: Fe(OH)3 yang
bermuatan positif akan menggumpal jika dicampur As2S3
yang bermuatan negatif.
f. Koloid Liofil dan Koloid Liofob
- Koloid Liofil
Koloid Liofil adalah koloid yang
mengadsorbsi cairan, sehingga terbentuk selubung di sekeliling koloid. Contoh:
agar-agar.
- Koloid Liofob
Koloid Liofob adalah kolid yang
tidak mengadsorbsi cairan. Agar muatan koloid stabil, cairan pendispersi harus
bebas dari elektrolit dengan cara dialisis, yakni pemurnian medium pendispersi
dari elektrolit.
g. Emulasi
Emulasi adalah kolid cairan dalam
medium cair. Agar larutan kolid stabil, ke dalam koloid biasanya ditambahkan
emulsifier, yaitu zat penyetabil agar koloid stabil.
Contoh: susu merupakan emulsi lemak
di dalam air dengan kasein sebagai emulsifier.
h. Kestabilan Koloid
1)
Banyak koloid yang harus
dipertahankan dalam bentuk koloid untuk penggunaannya.
Contoh: es krim, tinta, cat.
Untuk itu digunakan koloid lain yang
dapat membentuk lapisan di sekeliling koloid tersebut. Koloid lain ini disebut
koloid pelindung.
Contoh: gelatin pada sol Fe(OH)3.
2)
Untuk koloid yang berupa emulsi
dapat digunakan emulgator yaitu zat yang dapat tertarik pada kedua cairan yang membentuk emulsi
Contoh: sabun deterjen sebagai emulgator dari emulsi minyak dan air.
i. Pemurnian Koloid
Untuk memurnikan koloid yaitu
menghilangkan ion-ion yang mengganggu kestabilan koloid, dapat dilakukan cara
dialisis. Koloid yang akan dimurnikan dimasukkan ke kantong yang terbuat dari
selaput semipermeabel yaitu selaput yang hanya dapat dilewati partikel ion saja
dan tidak dapat dilewati molekul koloid.
Contoh: kertas perkamen, selopan
atau kolodion.
Pembuatan
Sistem Koloid
- Cara Kondensasi
Pembuatan sistem koloid dengan cara
kondensasi dilakukan dengan cara penggumpalan partikel yang sangat kecil.
Penggumpalan partikel ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Reaksi Pengendapan
Pembuatan sistem koloid dengan cara
ini dilakukan dengan mencampurkan larutan elektrolit sehingga menghasilkan
endapan. Contoh: AgNO3 + NaCl —> AgCl(s) + NaNO3
2. Reaksi Hidrolisis
Reaksi hidrolisis adalah reaksi
suatu zat dengan air. Sistem koloid dapat dibuat dengan mereaksikan suatu zat
dengan air. Contoh: AlCl3 +H2O —> Al(OH)3(s)
+ HCl
3. Reaksi Redoks
Pembuatan koloid dapat terbentuk
dari hasil reaksi redoks.
Contoh: pada larutan emas
Reaksi: AuCl3 + HCOH —> Au + HCl
+ HCOOH
Emas formaldehid
4. Reaksi Pergeseran
Contoh: pembuatan sol As2S3
dengan cara mengalirkan gas H2S ke dalam laruatn H3AsO3
encer pada suhu tertentu.
Reaksi: 2 H3AsO3
+ 3 H2S —> 6 H2O + As2S3
5. Reaksi Pergantian
Pelarut
Contoh: pembuatan gel kalsium asetat
dengan cara menambahkan alkohol 96% ke dalam larutan kalsium asetat jenuh.
2.Cara Dispersi
Pembuatan sistem koloid dengan
cara dispersi dilakukan dengan memperkecil partikel suspensi yang terlalu besar
menjadi partikel koloid, pemecahan partikel-partikel kasar menjadi koloid.
1. Cara Mekanik
Ukuran partikel suspensi diperkecil
dengan cara penggilingan zat padat, dengan menghaluskan butiran besar kemudian
diaduk dalam medium pendispersi.
Contoh: Gumpalan tawas digiling,
dicampurkan ke dalam air akan membentuk koloid dengan kotoran air.
2. Cara Peptisasi
Pembuatan koloid dengan cara
peptisasi adalah pembuatan koloid dengan menambahkan ion sejenis, sehingga
partikel endapan akan dipecah. Contoh: sol Fe(OH)3 dengan
menambahkan FeCl3.
sol NiS dengan menambahkan H2S.
karet dipeptisasi oleh bensin.
agar-agar dipeptisasi oleh air.
endapan Al(OH)3
dipeptisasi oleh AlCl3.
3. Cara Busur Bredia/Bredig
Pembuatan koloid dengan cara busur
Bredia/Bredig dilakukan dengan mencelupkan 2 kawat logam (elektroda) yang
dialiri listrik ke dalam air, sehingga kawat logam akan membentuk partikel
koloid berupa debu di dalam air.
4. Cara Ultrasonik
yaitu penghancuran butiran besar
dengan ultrasonik (frekuensi > 20.000 Hz)
Penggunaan
Sistem Koloid
1. Obat-obatan : salep, krim, minyak
ikan.
2. Makanan : es krim, jelly dan
agar-agar.
3. Kosmetik : hair cream, skin
spray, body lotion.
4. Industri : tinta, cat.
5. Getah Karet
6. Darah
7. Susu
No comments:
Post a Comment